KETIKA CINTA HARUS MEMILIH ( PART II )
Pertengahan bulan Maret 2011,
Keluarga Rafel telah sibuk merencanakan acara lamaran Rafael dengan Erika bulan depan. Rafael sendiri merasa ragu untuk melangkah maju, hatinya ingin menolak perjodohan itu sebelum terlambat. Namun, nuraninya berkata lain, dia masih menimbang-nimbang akibat dari kecerobohannya jika ia membatalkan acara lamaran yang hanya tinggal menghitung minggu.
Di Ruang tengah,
“Rafael,” panggil Ibunya dari ruang tengah, Rafael segera bergegas menuju arah suara tersebut. Sampai di ruang tengah Rafael melihat sesosok gadis mengenakan jilbab hitam duduk di samping ibunya. Ya itu adalah Erika. Rafael berjalan menghampiri Ibunya yang tengah mengobrol dengan Erika,calon menantunya itu.
“iya bu, ada apa manggil Rafael?” tanya Rafael santai. Ibunya hanya diam dan tersenyum kepada Rafael, Rafael menangkap perasaan aneh di balik senyum Ibunya itu. Ibunya beranjak dari tempat duduknya,
“Raf, hari ini kan kamu banyak waktu kosong, daripada kamu di kamar terus. Sana gih pergi jalan-jalan sama Erika, Erika sudah jauh-jauh kesini lo!” ujar Ibunya. Tidak tahu kenapa Rafael begitu sulit dan enggan mengucap kata “tidak”. Tak lama setelah Rafael berganti baju, dia segera pergi dengan Erika.
Di jalan,
“Raf, apa kamu yakin ingin menikahi ku?” tanya Erika. Rafael terkaget-kaget mendengar pertanyaan Erika yang tiba-tiba menanyakan satu hal yang ingin dia ungkapkan.
“Erika, mungkin pengakuanku ini akan begitu menyakiti kamu!” ucap Rafael dengan perasaan bersalah kepada Erika. Erika tersenyum kepada Rafael, dan saat kedua mata mereka bertemu Rafael merasakan Desir aneh yang tak seharusnya dia rasakan kepada perempuan lain selain Vianka. Rafael melihat sudut demi sudut wajah Erika. Dan memang benar apa kata keluarga dan teman-temannya Erika adalah gadis sederhana yang mampu memukau mata laki-laki mana punyang menatapnya,namun sesegera mungkin Rafael mengalihkan tatapannya. Dia takut perasaan yang tak seharusnya terjadi pada Erika.
‘ aku mencintai orang lain ‘ kalimat itu terucap begitu saja di bibir Rafael, Erika terlihat sangat shock mendengar apa yang baru saj Rafael katakan. Matanya berkaca-kaca,air matanya pun seolah ingin tumpah. Tiba-tiba muncul perasaan bersalah kepada Erika. Dia menyesal telah mengatakan hal itu, tapi dia harus mengatakannya demi kebaikan bersama.
“aku tidak akan memeprmasalahkan perasaan mu yang tidak seutuhnya untuk ku, jika memang kamu mencintai orang lain aku tidak akan merusak pertunangan ini. Aku akan tetap menunggu mu untuk bisa mencintai aku apa adanya.” Jawab Erika dengan yakin. Rafael tersentak kaget, dalam hatinya ia menginginkan Erika merelakan batalnya pertunangan ini, tapi Erika mengucapkan pernyataan yang bertolak belakang dengan apa yang Rafael harapkan. Rafael tersenyum kepada Erika untuk menutupi kekecewaan nya atas tanggapan yang di lontarkan dari mulut Erika.
***
Awal bulan April,
Hari ini Rafael pergi ke toko berlian bersama Ibunya membeli sepasang cincin untuk acara pertunangannya 2 minggu lagi. Tanpa di duga seorang perempuan memakai drees berwarna biru muda sedang mencoba-coba model cincin di toko tersebut. Rafael kaget bukan main melihat perempuan yang tidak lain dan tidak bukan adalah Vianka kekasihnya. Rafael sempat menghentikan langkah kakinya dan meminta Ibunya untuk mencari Toko berlian lain. Namun Ibunya menolak karena Toko tersebut adalah langganan Ibunya. Rafael tidak bisa menolak Ibunya dan terpaksa meneruskan ke arah toko tersebut. Rafael dan Ibunya berdiri di sebelah kiri Vianka namun masih ada jarak yang membuat Vianka tidak menyadari kehadiran Rafael di situ. Rafael terus berdoa semoga saja Vianka tidak menyadari kedatangannya.
“saya mau mengambil pesanan cincin minggu lalu mbak?” pinta Ibunya ke pada karyawan Di toko berlian tersebut.
Baru saja Ibunya berhenti berbicara kepada karyawan tersebut, Vianka menatap Ibu-Ibu tersebut dan menyadari bahwa ada sosok yang sangat dia cintai tepat di sebelah kiri Ibu-ibu tersebut. Ya, Rafael . Vianka segera menghampiri Rafael.
“Rafael, kebetulan banget kamu ada di sini ,aku lagi milih cincin yang bagus dan indah buat kita. Sama siapa?” tanya Vianka yang terlihat bahagia dengan keberadaan Rafel di situ.
“Siapa ini Raf, Teman kamu? Teman kuliahnya ya?” tanya Ibu Rafael kepada Mereka berdua. Rafel terlihat kikuk dan salah tingkah. Bagaimana dia bisa menyembunyikan pertunangannya dengan Erika dari Vianka jika dia di situ jelas-jelas dengan Ibunya, Ibu yang sangat berharap putra pertamanya menikah dengan putri tunggal dari keluarga Rusadi yaitu Erika.
“ohh, ini Ibunya Rafael ya?’’ tanya Vianka yang langsunng mencium tangan Ibu Rafael. Dan tiba-tiba karyawan toko berlian datang dan menyerahkan sepasang cincin yang Indah kepada Ibu Rafael.
“aduh, Ibu ini calon menantunya ya, cocok kok, cantik. Ini cincin pesananya !” ucap Karyawan tersebut ,terlihat raut wajah bahagia di paras cantik Vianka. Namun berbeda dengan Ibu Rafael yang langsung menyangkal tebakan dari karyawan tersebut. Dan sekaligus mengatakan Rafael akan bertunangan dengan putri pengusaha ternama di kota itu yaitu Erika. Vianka terperanjat kaget. Dia tak mampu menyebunyikan perasaan nya itu. Dengan sopan tanpa mengurangi rasa hormat, Vianka langsung pergi meninggalkan Toko Berlian tersebut tanpa sepatah kata pun, air matanya mengalir deras, berkali-kali Vianka menghentikan langkah kakinya berharap Rafael akan menahan kepergiannya. Namun, harapan itu tinggal harapan, entah mengapa Rafael yang begitu mencintai Vianka tidak mengejar Vianka. Vianka merasa sudah tidak berarti lagi di mata Rafael. Vianka menyesal membelakan diri pulang ke Indonesia hanya demi laki-laki yang telah menghianatinya. Kesetiannya selama ini hanyalah sia-sia saja,dan pada akhirnya kebohonganlah yang Vianka dapatkan.
Di rumah,
Sesampainya di rumah Rafael selalu melamun, “Rafael ibu gak suka ya kalau kamu harus menyakiti perasaan Erika demi perempuan tadi...” bentak Ibunya. Namun, Rafael hanya diam seribu bahasa tak menjawab apapun. Dalam benaknya terpikirkan bagaimana menjelaskan segala kejadian ini kepada Vianka supaya dia mengerti bahwa Rafael pun sekarang dalam posisi yang sangat Rumit. Sesaat kemudian Rafael seolah mendapatkan semangat untuk menjelaskan masalah ini kepada Vianka. Dia segera bangun dari tempat duduknya dan pergi keluar rumah. Terdengar dari dalam rumah Ibunya melarang Rafael untuk pergi karena Ibunya tahu Rafael pasti ingin menemui perempuan tadi. Namun, Rafael tidak memperdulikan suara-suara itu, dia terus beranjak pergi.
***
Di depan rumah Vianka,
Pintu rumah Vianka tertutup rapat,tak seorang pun didepan rumahnya. Beberapa kali Rafael mengetuk pintu Rumah Vianka, namun tak ada satu pun yang membukakan pintu,jangankan membukakan pintu menyahut sapaannya pun tak ada. Rafael berpikir bahwa Vianka sedang berada di taman tempat biasanya mereka menghabiskan waktu berdua dulu, saat Rafael beranjak pergi dari teras rumah itu, terdengar suara pintu terbuka. Dia segera menoleh ke arah pintu,walaupun bukan Vianka yang membuka pintu dia sangat bahagia, setidaknya dia akan tahu dimana Vianka.
“Mas Rafael mencari mbak Vianka?” tanya penjaga rumah Vianka selama dia belajar di Jerman.
“Iya, Vianka ada”
“Loh, mbak Vianka gak bilang apa-apa sama Mas Rafael ya?”
“ngomong apa ?” tanya Rafael penasaran.
“Kok aneh ya, Bukannya hari ini Mbak Vianka memutuskan untuk kembali ke Jerman,” jawab Ibu-Ibu stengah tua itu.
Rafael sangat kaget mengapa secepat ini Vianka meninggalkan Indonesia, padahal baru beberapa hari yang lalu dia datang dan mengingat masa-masa terindah mereka berdua. Ada perasaan berslah di hati Rafael, mengapa dia membiarkan Vianka kembali ke Jerman membawa Luka yanng tak seharusnya ia torehkan di hati Vianka. Dengan sepenuh hati Rafael segera bergegas menuju Bandara terdekat. Setelah sampai disana ternyata semua telah terlambat, Pesawat dengan tujuan Dusseldorf Jerman telah berangkat beberapa menit yang lalu. Tubuh Rafael lemas, seolah darahnya tlah berhenti mengalir,jantungnya tlah berhenti berdetak. Air matanya mengalir, mengiringi kepergian Vianka yang membawa perih sakit hati yang dia buat.
to be continued,,,,,,
Ketika CinTA harus Memilih Part II
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







2 komentar:
Rafael?. mengingatkanku pada SM*SH. He he...
Oh ya, di tunggu kelanjutannya ya...
mengingatkanqu pd rafael smash nich.oh y qu tunggu kelanjutan ceritanya,OK!
Posting Komentar