LOVE STORY

On Kamis, 06 Oktober 2011 0 komentar

Ini Bukanlah cerpen fiktif yang di karang sedemikian rupa untuk menarik minat pembaca, ini hanyalah sepenggalan kisah yang tak ingin ku simpan sendiri. Kenangan manis yang menyakitkan namun akhirnya berakhir dengan indah.
Air mataku bahkan belum kering mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, ketika aku harus merelakan orang yang aku sayang untuk perempuan lain. Aku mencoba untuk tetap bertahan meski itu semua sangat menyakitan, saat semua telah hancur, air mata yang terus mengalir dan titik titik hujan ini lah yang menjadi saksi kepahitan kisah ku bersamanya yang harus terhapus oleh waktu. Aku mulai tersadar oleh waktu yang terus berjalan, aku tak akan bisa mengubah segalanya ataupun memaksa Hafis untuk mencintaiku seperti aku mencintaiya. Hari ini aku putuskan untuk melupakan segala yang tak perlu untuk di ingat kembali. Dia hanya bayangan semu untukku tak akan pernah menjadi nyata.
Saat aku terjatuh Angga lah yang selalu ada untukku, tak hanya saat aku terjatuh bahkan setiap saat pun ketika aku butuh seseorang untuk bersandar dia selalu ada untukku. Angga hanyalah orang asing yang tiba-tiba muncul dalam episode kehidupanku, dia datang dengan kasih sayang yang tak pernah terbatas untukku. Bahkan ketika dia tahu bahwa aku adalah kekasih sahabatnya pun dia tak pernah kecewa, dia terus mendukung segala sesuatu yang membuat ku tersenyum bahagia walaupun akhirnya luka lah yang aku terima. Saat aku mulai menyadari bahwa Angga menyimpan perasaan kepadaku, semuanya berubah kecuali perasaan ku kepada Hafis, meski waktu terus berputar memaksaku melupakan dia, namun aku tak pernah bisa membohongi perasaanku dari hati yang terdalam dan paling dalam Hafis seolah terpatri dalam hatiku. Ini sangat konyol. Bibirku dengan mudahnya membenci Hafis, tapi hatiku tidak.
Aku merasa bersalah kepada Angga, selama ini dia selalu ada untukku selalu menerima meski itu menyakitkan untuknya. Dia selau mengakah untukku agar aku selalu tersenyum. Aku tahu suatu saat Angga akan meminta ku untuk menjadi bintang di hatinya dan aku tak yakin akan mengatakan ‘iya’ , saat itu lah kegundahan besar melanda hatiku, aku tak mungkin menerima Angga jika sampai sekarang hatiku masih sepenuhnya untuk Hafis, aku pun tak mengerti mengapa sosok Hafis yang pernah membuat ku menangis yang telah membuatku terpuruk, yang telah menghancurkan harapanku, sosok yang membuat ku mengerti kesabaran lah yang selalu teringat di benakku, yang selalu ada dalam ingatanku meski dia tak pernah mengingat sedikit pun tentang aku taupun kenangan kita berdua.
Dala sepi ini aku seolah di sadarkan, hatiku selalu berbisik,
“terima apa adanya Angga, suatu saat kamu akan mencintainya seiring berjalannya waktu dan lupakanlah sesuatu yang tak pantas untukmu”
Apa yang harus aku lakukan apakah akau harus menerima Angga untuk menjadi kekasihnya? Atau tetap pada pendirian hatiku untuk tetap mencintai Hafis hingga aku lelah dan mampu melupakannya?

0 komentar:

Posting Komentar