GAGAL ITU BUKAN AKHIR

On Senin, 11 April 2011 0 komentar


“gagal lagi ndi!” katanya kepadaku, hari ini aku dan Avri duduk bersama di depan kelas, dia bercerita panjang lebar tentang pacar barunya. “aku gag nyangka secepat ini hubunganku ma dia kandas gitu aja!, bayangin aja aku yang selalu ada buat dia dan selalu menyayangi dia harus tersingkir jauh-jauh dengan kedatangan orang ketiga!” lanjutnya kepadaku, aku tetap mendengarkan cerita demi ceeritanya baik baik, sambil terus menyebarkan pandangan ke seluruh sudut sekolah.
“menurut aku dia cewek yang baik, hanya waktu aja yang maksa dia buat nyakitin aku” ujar nya sekali lagi, aku menoleh ke arahnya,
“aku gag habis piker dengan jalan pikiranmu vri. Jelas-jelas kamu di hancuruin berkeping-keping gitu masih aja bisa tersenyum lebar kaya gitu, terus masih bisa lagi muji-muji dia. Sebenernya kamu tu punya perasaan gag siih?” tukas ku keras aku tak peduli tanggapan apa yang akan dia tumpahkan kepadaku. Dan Avri hanya tersenyum masam,
“jangan bilang kalo kamu masih berharap ma dia?” Tanya ku penasaran, sekarang aku menjadi lebih aktif bertanya.
“mungkin!” jawabnya singkat, saat itu aku ingin sekali menendang nya, aku ingin menyadarkan Avri tentang semua penantiannya yang sia-sia toh masih banyak cewek-cewek di SMA ini yang berharap untuk dekat dengannya, termasuk aku. Ups ngaku juga deh, aku udah suka dengannya mungkin sekitar 2 tahun yang lalu, ketika kita pertama kali ketemu di perpustakaan sekolah. Saat itu dia di mintai bantuan oleh salah satu guru pengajar untuk membawa beberapa buku tebal, karena jumlahnya terlalu banyak aku tidak sengaja berpikit untuk membantunya dan finally, yups kita kenalan, temenenan, temenan, temenan dan sampai sekarang tetep temenan meskipun di dalam hatiku yang paling dalam aku ingin jauh lebih dekat dengannya tidak hanya sekedar berteman saja.

Tak terasa bel masuk berbunyi, semua siswa beduyun-duyun memasuki kelas masing-masing. Ini adalah jam pelajaran matematika dari luar kelas seorang guru perempuan setengah tua namun belum menikah masuk kedalam kelas kami, dia adalah guru matematika kami yang bernama Ibu sandra, semua anak terdiam, semua mata tertuju kepada orang yang masuk kelas kami itu, namun bukan Ibu Sandra lah yang mereka lihat, semua mata mengarah kepada seorang gadis seusia ku yang berjalan di belakang Ibu Sandra, “siapa cewek itu?” tanya ku dalam hati. Semua terdiam , aku mengamati sudut demi sudut gadis itu dari wajah turun kebawah hingga ujung sepatunya tak luput dari pandanganku, “yupz dia anak baru!” jawab ku dalam hati.

“anak-anak siswi ini adalah siswi pindahan dari (Ibu. Sandra menyebutkan suatu sekolah menengah atas di kota kami)” ucap Ibu Sandra. “silahkan memperkenalkan diri!” Ibu sandra menyuruh cewek yang berdiri di depanku itu untuk memperkenalkan dirinya, perlahan gadis itu melangkah satu langkah ke depan dan mulai memperkenalkan diri,
“saya Jasmine, semoga kita bisa menjadi teman yang baik,,,!” ucap Jasmine kepada semua yang ada di ruangan kelasku itu sambil berjalan ke arahh ku dan duduk di bangku sebelah ku yang kosong sejak Avri memutuskan untuk duduk di bangku deretan paling depan. Aku sempat melirik ke arah Avri pandangannya tidak lepas dari cewek yang sekarang duduk di sampingku itu, dia terus menatapnya hingga jasmine mendapati Avri tengah melihatnya lekat-lekat, segelintir senyum tersumbing di bibir keduanya, aku berpikir sebentar lagi bakal ada satu kejadian yang menggemparkan sekolah.
Dan Really, gak lama setelah kedatangan murid baru itu Avri berubah dia lebih terlihat bersemangat memulai kelas padahal belum ada 2 hari yang lalu dia baru putus dengan si cewek pecundang itu. Sekarang dia lebih seperti seorang wanita menurutku, lebih suka memperhatikan penampilannya, mungkin untuk membuat si murid baru Jasmine terpesona dengan nya.
***

Aku pikir dia Cuma iseng-isengan aja deketin jasmine tapi ternyata aku salah, Avri tetaplah cowok SMA yang bisa di bilang Playboy,,ehm.. gag butuh waktu lama sebentar ajaAvri udah bisa jadian sama Jasmine. Aku? Sebel sih, knapa harus jasmine ? kenapa Avri gag ngajak aku aja buat jadi pacarnya. Pagi itu aku dan Avri tengah mengobrol asyik tentang aplikasi Photoshine, tiba-tiba Jasmine menghampiri kita berdua, dengan senyum yang menurutku tidak asli, jasmine mengulurkan kotak makanan. Avri pun menerimanya dengan senyum yang... ih... gag banget deh.
“Makasih, !” kata Avri pelan kepada Jasmine. Jasmine hanya tersenyum dan sempat melirik ke arahku. Aku merasa terganggu dengan tatapan jasmine kepadaku saat itu, tatapannya seolah menginginkan aku untuk menjauh dari tempat itu mungkin biar dia bisa berdua dengan Avri , tapi aku gak mau gitu pergi dari tempat itu. Aku duluan kan yang duduk di situ dengan Avri, lagian siapa sih jasmine? Diakan Cuma pacar dari sahabat aku.
“ehm ndi?” panggil Avri pelan. Sambil melirik ke arahku, “bisa tinggalin kita berdua gak?” pinta nya pelan. Akuu tersentak hampir saja aku merasa lebih penting untuk di utamakan dari pada jasmine tapi.. tidak saat itu. Yah aku mulai marah kepada Avri. Dia mulai mementingkan jasmine dari pada aku yang telah lama menjadi sahabat karibnya.
Aku segera pergi meniggalkan tempat itu, aku sempat menghentikan langkah kakiku, berharap ketika aku berbalik melihatnya Avri akan menahan ku untuk pergi. Tapi yupz, semuanya Cuma harapan semu ku yang gag mungkin terjadi.
***

0 komentar:

Posting Komentar