CINTA ABADI
Pagi ini Abadi dan Cinta berjanji untuk bertemu dimana biasanya mereka bertemu. Langit agak mendung mungkin hujan akan segera turun. Abadi mempercepat langkahnya menuju taman di tengah kota. Dia tidak sabar berjumpa dengan sang kekasih. Dia tidak ingin Cinta menungguinya terlalu lama, sesampainya di taman kota dia menyebarkan pandangannya kesegala arah dan ketika tatapannya berhenti di suatu tempat dimana sesosok gadis sedang duduk bersandarkan pohon. Dia melangkahkan kaki ke arah gadis itu , pelan namun pasti, dia melangkah mendekat dan semakin dekat hingga dia berada tepat di belakang cinta, tiba-tiba degug jantungnya tidak terkendali, waktu seolah berhenti dan menghentikan segalanya. Cinta tidak terkejut ketika mengetahui Abadi berada di belakang tubuhnya,
“Abadi, aku ingin berbicara denganmu.?” Ucap cinta sambil berdiri dan berbalik menatap kekasih yang sangat dia cintai itu.
“katakanlah Cinta, jika itu memang perlu untuk di ungkapkan, jangan memendam segala sesuatu tanpa ku ketahui,!” jawab Abadi penuh Perasaan sebagai seorang kekasih dengan sejuta cinta.
Namun Cinta tertunduk, dia seolah menyimpan masalah berat yang sulit di ucap kata-kata. Tangan lembutnya meraih tangan Abadi, Abadi menyadari ada satu hal aneh yang terjadi pada kekasihnya itu.
“Kamu tidak pernah terlihat seperti ini Cinta , katakanlah apa yang membuatmu gundah ?” tanya Abadi penuh harap , Cinta masih tertunduk, entah apa yang di pikirkannya. Abadi mengangkat wajah cinta pelan dan penuh perasaan hingga kedua mata mereka bertemu.
“tatapalah aku Cinta , sebagaimana kamu menatap Dunia mu selama ini!” Ucap Abadi sekali lagi,
“Aku harus pergi” jawab Cinta air matanya tidak bisa tertahan kan lagi air matanya mengalir begitu saja di pipi halusnya, Abadi semakin tidak mengerti ‘
“jangan menangis Cinta, air matamu terlalu berhargga untuk tertumpahkan,” kata Abadi sambil mengusap pipi halus Cinta dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya tetap menggenggam erat tangan Cinta.
“Aku harus pergi, meninggalkan segala cerita Indah yang kita ukir di bumi cinta ini,” ujar Cinta. Tatapannya tidak lepas dari Abadi, Abadi melepaskan genggaman tangannya perlahan.
Abadi terluka dia seolah jatuh di atas bara api, tersayat pedang tajam dan terhempas ombak besar di lautan lepas terpontang-panting tanpa arah yang pasti. Keduanya terdiam tidak ada satu kata pun yang terucap dari keduanya. Hingga tiba-tiba suara Abadi berkata,
“Aku tidak percaya secepat ini kamu menyakitiku, apa salahku sehingga kamu ingin pergi dari ku?”
“aku harus menikahi seorang laki-laki pilihan ayahku ! aku tidak bisa menolak permintaan orang tuaku, aku tidak ingin melukai mereka” tegas Cinta , hati Abadi tersentak dia telah mengerti alasan mengapa Cinta ingin meninggalkannya. Hatinya semakin terluka. Sedangkan air mata Cinta tidak berhenti mengalir, keduanya kembali terdiam Abadi tidak bisa memaksa cinta untuk tetap bersamanya sedangkan keadaan memaksanya untuk pergi, mereke berdiri berhadapan saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba petir mengagetkan Cinta , Cinta terkejut spontan dia memeluk Abadi yyang ada di hadapannya. Beberapa detik setelah petir menggelegar, hujan turun dengan derasnya dan Cinta masih belum melepas pelukannya justru semakin mempererat pelukannya. Hujan deras mengguyur tubuh mereka. Mereka membiarkan dingin sebagai selimut kepahitan perpisahan. Ketika hujan semakin deras perasaan mereka semakin terpukul. Cinta tetap menangis dan tetap menangis di pelukan Abadi. Perlahan hujan pun mulai reda , namun itu sama sekali tidak mengurangi kesedihan mereka.
“Aku berjanji akan selalu mencintaimu apapun yang terjadi.” Ucap Cinta dengan suara yang bergetar.
“jangan pernah mencintaiku jika kamu telah bersama dengan orang lain , cintai lah dia seperti kamu mencintaiku, aku telah rela jika memang kamu bukanlah untuk ku, lupakanlah jika memang itu yang terbaik untuk mu , untukku dan juga untuk kita.” Jawab Abadi, Abadi berharap kali ini dia mengambil keputusan yang tepat,dan tidak akan ada penyesalan atas ucapannya yang baru saja dia ucapkan itu.
“Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi ?” tanya Cinta, “mengapa kamu nampak nya telah siap jika harus berpisah dengan ku.”
Abadi tak kuasa menahan perasaannya. Dia telah hancur berkeping-keping, terinjak-injak bagaikan sampah yang tidak berguna lagi. Abadi tidak tahu harus berkata apa lagi,
“ternyata kamu memang tidak pernah sungguh-sungguh mencintaiku, seperti aku mencintaimu.” Ucap Cinta sekali lagi sambil melepaskan pelukannya.
“pergilah, bawa semua cintamu untukku, dan segala cintaku yang tersimpan di hatimu” kata Abadi sambil membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi. Baru beberapa langkah Abadipergi menjauh dari Cinta, tiba-tiba cinta memanggilnya,
“Abadi!!!!” panggil Cinta, Abadi berhenti tanpa berbalik menatap Cinta.
“aku sadar ini semua salahku, tak seharusnya aku mengorbankan cinta kita untuk orang tuaku, tapi perlu kamu tahu aku mencintaimu jauh di atassegalanya, dan aku akan selalu mencintaimu selama matahari bersinar untuk alam ini,” ungkap Cinta , namun Abadi tidakmenanggapi ucapan Cinta,Dia langsung meninggalkan Cinta meski dalam hati dia ingin mengatakan kepada Cinta, bahwa cintanya tak akan terkikis oleh jarak, terhapus waktu, juga tak akan terhabis di telan Usia. Namun yang terbaik untuk saat i
ni adalah menyimpan segala perasaan yang ingin terucap itu. Abadi berjalan menjauh dan semakin jauh.
“Abadi, aku ingin berbicara denganmu.?” Ucap cinta sambil berdiri dan berbalik menatap kekasih yang sangat dia cintai itu.
“katakanlah Cinta, jika itu memang perlu untuk di ungkapkan, jangan memendam segala sesuatu tanpa ku ketahui,!” jawab Abadi penuh Perasaan sebagai seorang kekasih dengan sejuta cinta.
Namun Cinta tertunduk, dia seolah menyimpan masalah berat yang sulit di ucap kata-kata. Tangan lembutnya meraih tangan Abadi, Abadi menyadari ada satu hal aneh yang terjadi pada kekasihnya itu.
“Kamu tidak pernah terlihat seperti ini Cinta , katakanlah apa yang membuatmu gundah ?” tanya Abadi penuh harap , Cinta masih tertunduk, entah apa yang di pikirkannya. Abadi mengangkat wajah cinta pelan dan penuh perasaan hingga kedua mata mereka bertemu.
“tatapalah aku Cinta , sebagaimana kamu menatap Dunia mu selama ini!” Ucap Abadi sekali lagi,
“Aku harus pergi” jawab Cinta air matanya tidak bisa tertahan kan lagi air matanya mengalir begitu saja di pipi halusnya, Abadi semakin tidak mengerti ‘
“jangan menangis Cinta, air matamu terlalu berhargga untuk tertumpahkan,” kata Abadi sambil mengusap pipi halus Cinta dengan tangan kiri, sedang tangan kanannya tetap menggenggam erat tangan Cinta.
“Aku harus pergi, meninggalkan segala cerita Indah yang kita ukir di bumi cinta ini,” ujar Cinta. Tatapannya tidak lepas dari Abadi, Abadi melepaskan genggaman tangannya perlahan.
Abadi terluka dia seolah jatuh di atas bara api, tersayat pedang tajam dan terhempas ombak besar di lautan lepas terpontang-panting tanpa arah yang pasti. Keduanya terdiam tidak ada satu kata pun yang terucap dari keduanya. Hingga tiba-tiba suara Abadi berkata,
“Aku tidak percaya secepat ini kamu menyakitiku, apa salahku sehingga kamu ingin pergi dari ku?”
“aku harus menikahi seorang laki-laki pilihan ayahku ! aku tidak bisa menolak permintaan orang tuaku, aku tidak ingin melukai mereka” tegas Cinta , hati Abadi tersentak dia telah mengerti alasan mengapa Cinta ingin meninggalkannya. Hatinya semakin terluka. Sedangkan air mata Cinta tidak berhenti mengalir, keduanya kembali terdiam Abadi tidak bisa memaksa cinta untuk tetap bersamanya sedangkan keadaan memaksanya untuk pergi, mereke berdiri berhadapan saling menatap satu sama lain. Tiba-tiba petir mengagetkan Cinta , Cinta terkejut spontan dia memeluk Abadi yyang ada di hadapannya. Beberapa detik setelah petir menggelegar, hujan turun dengan derasnya dan Cinta masih belum melepas pelukannya justru semakin mempererat pelukannya. Hujan deras mengguyur tubuh mereka. Mereka membiarkan dingin sebagai selimut kepahitan perpisahan. Ketika hujan semakin deras perasaan mereka semakin terpukul. Cinta tetap menangis dan tetap menangis di pelukan Abadi. Perlahan hujan pun mulai reda , namun itu sama sekali tidak mengurangi kesedihan mereka.
“Aku berjanji akan selalu mencintaimu apapun yang terjadi.” Ucap Cinta dengan suara yang bergetar.
“jangan pernah mencintaiku jika kamu telah bersama dengan orang lain , cintai lah dia seperti kamu mencintaiku, aku telah rela jika memang kamu bukanlah untuk ku, lupakanlah jika memang itu yang terbaik untuk mu , untukku dan juga untuk kita.” Jawab Abadi, Abadi berharap kali ini dia mengambil keputusan yang tepat,dan tidak akan ada penyesalan atas ucapannya yang baru saja dia ucapkan itu.
“Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi ?” tanya Cinta, “mengapa kamu nampak nya telah siap jika harus berpisah dengan ku.”
Abadi tak kuasa menahan perasaannya. Dia telah hancur berkeping-keping, terinjak-injak bagaikan sampah yang tidak berguna lagi. Abadi tidak tahu harus berkata apa lagi,
“ternyata kamu memang tidak pernah sungguh-sungguh mencintaiku, seperti aku mencintaimu.” Ucap Cinta sekali lagi sambil melepaskan pelukannya.
“pergilah, bawa semua cintamu untukku, dan segala cintaku yang tersimpan di hatimu” kata Abadi sambil membalikkan badannya dan mulai melangkah pergi. Baru beberapa langkah Abadipergi menjauh dari Cinta, tiba-tiba cinta memanggilnya,
“Abadi!!!!” panggil Cinta, Abadi berhenti tanpa berbalik menatap Cinta.
“aku sadar ini semua salahku, tak seharusnya aku mengorbankan cinta kita untuk orang tuaku, tapi perlu kamu tahu aku mencintaimu jauh di atassegalanya, dan aku akan selalu mencintaimu selama matahari bersinar untuk alam ini,” ungkap Cinta , namun Abadi tidakmenanggapi ucapan Cinta,Dia langsung meninggalkan Cinta meski dalam hati dia ingin mengatakan kepada Cinta, bahwa cintanya tak akan terkikis oleh jarak, terhapus waktu, juga tak akan terhabis di telan Usia. Namun yang terbaik untuk saat i
ni adalah menyimpan segala perasaan yang ingin terucap itu. Abadi berjalan menjauh dan semakin jauh.***
Pagi-pagi sekali Abadi memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya , sebenarnya hari ini dia ingin pulang bersama Cinta sekaligus mengenalkan Cinta kepada orang tuanya , namun semua itu hanya tinggal bayang-bayang semu yang tidak akan pernah terjadi. Abadi berharap setelah dia kembali ke orang tuanya dia akan cepat melupakan kenangan penuh luka itu, setelah pukul 7 pagi dia segera bergegas ke stasiun kereta, sebelum dia ke stasiun dia berhenti tepat di depan rumah Cinta, sepucuk surat untuk cinta Dia selipkan di kotak surat rumah Cinta. Setelah itu dia segera pergi sejauh-jauhnya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sebentar lagi kereta akan berangkat , semua penumpang telah memasuki kereta. Sebelum masuk, Abadi berharap dirinya melihat wajah Cinta untuk yang terakhir kalinya. Namun, dia mulai sadar bahwa dirinya tidak ubahnya seperti pungguk merindukan bulan , Abadi segera naik dan mencari tempat duduknya. Sepulang ke rumah orang tuanya, di dalam Kereta dia duduk di sampin seorang gadis berjilbab, gadis itu sangat ramah, dari cara berbicaranya dia adalah gadis yang berwawasan luas. Sesekali gadis berjilbab itu mengajak Abadi mengobrol, mereka mengobrol banyak hal tentang perjuangan dalam hidup, sekilas Abadi mampu melupakan siksaan batin yang sedang menderra jiwa nya.kereta berjalan begitu cepat, tidak terasa kereta berhenti di stasiun pemberhentian pertama, gadis berjilbab di sampingnya itu turun. Abadi memandangnya hingga dia keluar dari kereta, bahkan saat gadis berjilbab itu sudah turun Abadi masih saja memandangnya dari balik kaca jendela kereta dan lambaian tangan dari gadis berjilbab itu menjadi satu semangat untuk melangkah ke depan bagi Abadi. Kereta mulai berjalan kembali dan bayangan gadis berjilbab itu semakin lama hilang di telan jarak kereta yang berjalan semakin jauh.
***
Cinta terlambat mengetahui kalau ada surat dari Abadi untuknya, dia baru mengetahui setelah Abadi telah jauh meninggalkannya. Dia baca surat yang Abadi kirim kan itu,
“Mungkin saat kamu membaca surat ini aku telah pergi jauh ,meninggalkan semua cerita indah kita sperti yang kamu minta, tak ada satu kata pun yang bisa mengubah semua ini kita telah berakhir walaupun sebenarnya cinta kita takkan pernah berakhir sampai di sini , mungkin segores luka yang kau torehkan di hatiku akan menjadi satu kenangan pahit yang takkan pernah aku lupa meski nadiku tak lagi berdenyut, aku harap kamu bahagia dengan pilihan mu, . aku tidak akan mengganggu mu dengan laki-laki pilihan mu, aku tidak akan mengganggumu jika itu memang kamu lebih bahagia dengannya, aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu lebih dari cintamu kepadaku. Dan aku akan selalu mencintaimu seperti janjiku saat pertama kali aku menjadi kekasih mu.”
Cinta tak kuasa membaca surat dari Abadi. Dia merasa sangat kejam terhadap Abadi, tidak punya hati. Cinta tidak tahu harus berbuat apa, yang pertama kali muncul di pikirannya adalah segera menemuinya. Namun berhari hari dia tidak menemukan keberadaan Abadi, dia terus mencari dan mencari, dia mencoba bertanya-tanya kepada teman-teman Abadi tentang keberadaan Abadi namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan abadi. Cinta semakin terpukul dia putus asa berminggu-minggu dia mencari Abadi namun Abadi seakan hilang bagaikan di telan bumi.
Dia mulai putus asa, semakin lama dia semakin murung, dia berubah menjadi gadis yang sukamenyendiri, melamun dan menangis sendiri. Cinta mulai tidak peduli dengan kondisi tubuhnya, makan tidak teratur, dan tidur pun tidak nyenyak. Sesekali Cinta jatuh sakit, syukurlah 2-3 hari saja sakitnya sembuh. Tubuhnya mengering, Cinta semakin kurus tak terurus padahal semua anggota keluargannya memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Karena kondisi Cinta yang sangat tragis terpaksa pernikahannya dengan laki-laki pilihan ayahnya itu di batalkan hingga kondisi Cinta sudah memungkinkan untuk melangsungkan pernikahan.
Suatu pagi, ayah Cinta mendapati anaknya tengah menangis di depan jendela kamarnya, tatapannya kosong menerawang jaug keluar rumah,namun air matanya tidak berhenti mengalir di pipinya.
“Mengapa kamu termenung sendiri disini anakku , sudah beberapa minggu ini kamu terlihat ada masalah berat , apa yang sedang menimpa mu ?” tanya ayahnya , Cinta masih tetap termenung seolah-olah dia tidak menyadari ada ayahnya, walaupun sebenarnya dia mendengar dengan jelas segala ucapan ayahnya.
“Anakku pandang jauh hidupmu jangan mengantang asap seperti ini.” Ucap ayahnya bijaksana, “Toh setiap kejadian yang menimpamu seberat apapun itu pasti ada pelajaran yang bisa di ambil.bukan untuk di tangisi seperti ini.” Lanjut ayahnya. Cinta seperti mendapatkan secercah cahaya yang menerangi jalan hidupnya , Cinta menghela nafas dan berbalik menghadap ke arah ayahnya.
“Ayah, Cinta ingin mengatakan sesuatu kepada ayah.” Ucap Cinta pelan. “Mungkin ayah tidak akan menyukai ini tapi Cinta harus mengatakanya”
“Katakanlah anakku,!” jawab ayahnya,
“Ayah Cinta tidak ingin melukai perasaan ayah, mengecewakan ayah atau pun menghancurkan harapan ayah. Namun di balik keinginan ayah untuk menikahkanku telah menyakiti ku dan menyakiti seseorang yang sangat mencintai Cinta , sekaligus sangat Cinta sayangi. “ ujar cinta dengan suara yang pelan. Dia tidak peduli jika ayahnya akan memurkainya dengan sikap nya itu. Namun dugaan Cinta salah , ayahnya bukanlah seseorang yang memaksakan keinginannya sendiri. Lalu ayahnya menjawab,
“Ternyata hal itu yang membuat mu seperti ini, tidaklah mampu ayahmu ini menikahkan kamu dalam keadaan seperti ini , mengapa kamu tidak pernah mengatakan kepada ayah? Ayah tidak akan memaksamu menikah dengan seseorang yang tidak kamu cintai apalagi dengan orang yang tidak bisa membuat mu bahagia!”
Cinta menghela nafas mendengar kata-kata ayahnya , dia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Air matanya kembali menetes tak tertahankan.
“Jika memang kamu benar-benar mencintai kekasihmu, kejarlah dia! Jangan hanya menghabiskan hari-hari mu dengan menangis disini.” Ayahnya memberi nasihat.
“Tak ada yang bisa Cinta Lakukan sekarang ayah, semuanya sudah terlambat. Dia telah pergi membawa seberkas luka yang Cinta torehkan, tidak ada satu petunjuk pun yang mengetaui keberadaannya.” Ucap Cinta pelan dan seolah tanpa harapan.
“Bersabarlah.’ Ayahnya memberi semangat. ‘ jika memang dia adalah takdirmu suatu saat nanti dia pasti akan kembali kepadamu. Namun, tidak di benarkan jika kamu hanya terus-terusan meratapi nasib itu tidak akan membuat mu bertemu kembali dengannya. Pergilah ke rumah nenekmu supaya kamu bisa menenangkan pikiranmu” Lanjut ayahnya. Cinta tidak menjawab jiwanya semakin terkoyak, membayangkan kekasih yang sangat dia banggakan menghilang bagai bintang di telan malam. Namun Cinta memutuskan untuk pergi ke wilayah pantai di ujung kota. Hingga dia merasa siap untuk menghadapi kehidupanya ke depan.
***“Mungkin saat kamu membaca surat ini aku telah pergi jauh ,meninggalkan semua cerita indah kita sperti yang kamu minta, tak ada satu kata pun yang bisa mengubah semua ini kita telah berakhir walaupun sebenarnya cinta kita takkan pernah berakhir sampai di sini , mungkin segores luka yang kau torehkan di hatiku akan menjadi satu kenangan pahit yang takkan pernah aku lupa meski nadiku tak lagi berdenyut, aku harap kamu bahagia dengan pilihan mu, . aku tidak akan mengganggu mu dengan laki-laki pilihan mu, aku tidak akan mengganggumu jika itu memang kamu lebih bahagia dengannya, aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu lebih dari cintamu kepadaku. Dan aku akan selalu mencintaimu seperti janjiku saat pertama kali aku menjadi kekasih mu.”
Cinta tak kuasa membaca surat dari Abadi. Dia merasa sangat kejam terhadap Abadi, tidak punya hati. Cinta tidak tahu harus berbuat apa, yang pertama kali muncul di pikirannya adalah segera menemuinya. Namun berhari hari dia tidak menemukan keberadaan Abadi, dia terus mencari dan mencari, dia mencoba bertanya-tanya kepada teman-teman Abadi tentang keberadaan Abadi namun tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan abadi. Cinta semakin terpukul dia putus asa berminggu-minggu dia mencari Abadi namun Abadi seakan hilang bagaikan di telan bumi.
Dia mulai putus asa, semakin lama dia semakin murung, dia berubah menjadi gadis yang sukamenyendiri, melamun dan menangis sendiri. Cinta mulai tidak peduli dengan kondisi tubuhnya, makan tidak teratur, dan tidur pun tidak nyenyak. Sesekali Cinta jatuh sakit, syukurlah 2-3 hari saja sakitnya sembuh. Tubuhnya mengering, Cinta semakin kurus tak terurus padahal semua anggota keluargannya memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Karena kondisi Cinta yang sangat tragis terpaksa pernikahannya dengan laki-laki pilihan ayahnya itu di batalkan hingga kondisi Cinta sudah memungkinkan untuk melangsungkan pernikahan.
Suatu pagi, ayah Cinta mendapati anaknya tengah menangis di depan jendela kamarnya, tatapannya kosong menerawang jaug keluar rumah,namun air matanya tidak berhenti mengalir di pipinya.
“Mengapa kamu termenung sendiri disini anakku , sudah beberapa minggu ini kamu terlihat ada masalah berat , apa yang sedang menimpa mu ?” tanya ayahnya , Cinta masih tetap termenung seolah-olah dia tidak menyadari ada ayahnya, walaupun sebenarnya dia mendengar dengan jelas segala ucapan ayahnya.
“Anakku pandang jauh hidupmu jangan mengantang asap seperti ini.” Ucap ayahnya bijaksana, “Toh setiap kejadian yang menimpamu seberat apapun itu pasti ada pelajaran yang bisa di ambil.bukan untuk di tangisi seperti ini.” Lanjut ayahnya. Cinta seperti mendapatkan secercah cahaya yang menerangi jalan hidupnya , Cinta menghela nafas dan berbalik menghadap ke arah ayahnya.
“Ayah, Cinta ingin mengatakan sesuatu kepada ayah.” Ucap Cinta pelan. “Mungkin ayah tidak akan menyukai ini tapi Cinta harus mengatakanya”
“Katakanlah anakku,!” jawab ayahnya,
“Ayah Cinta tidak ingin melukai perasaan ayah, mengecewakan ayah atau pun menghancurkan harapan ayah. Namun di balik keinginan ayah untuk menikahkanku telah menyakiti ku dan menyakiti seseorang yang sangat mencintai Cinta , sekaligus sangat Cinta sayangi. “ ujar cinta dengan suara yang pelan. Dia tidak peduli jika ayahnya akan memurkainya dengan sikap nya itu. Namun dugaan Cinta salah , ayahnya bukanlah seseorang yang memaksakan keinginannya sendiri. Lalu ayahnya menjawab,
“Ternyata hal itu yang membuat mu seperti ini, tidaklah mampu ayahmu ini menikahkan kamu dalam keadaan seperti ini , mengapa kamu tidak pernah mengatakan kepada ayah? Ayah tidak akan memaksamu menikah dengan seseorang yang tidak kamu cintai apalagi dengan orang yang tidak bisa membuat mu bahagia!”
Cinta menghela nafas mendengar kata-kata ayahnya , dia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Air matanya kembali menetes tak tertahankan.
“Jika memang kamu benar-benar mencintai kekasihmu, kejarlah dia! Jangan hanya menghabiskan hari-hari mu dengan menangis disini.” Ayahnya memberi nasihat.
“Tak ada yang bisa Cinta Lakukan sekarang ayah, semuanya sudah terlambat. Dia telah pergi membawa seberkas luka yang Cinta torehkan, tidak ada satu petunjuk pun yang mengetaui keberadaannya.” Ucap Cinta pelan dan seolah tanpa harapan.
“Bersabarlah.’ Ayahnya memberi semangat. ‘ jika memang dia adalah takdirmu suatu saat nanti dia pasti akan kembali kepadamu. Namun, tidak di benarkan jika kamu hanya terus-terusan meratapi nasib itu tidak akan membuat mu bertemu kembali dengannya. Pergilah ke rumah nenekmu supaya kamu bisa menenangkan pikiranmu” Lanjut ayahnya. Cinta tidak menjawab jiwanya semakin terkoyak, membayangkan kekasih yang sangat dia banggakan menghilang bagai bintang di telan malam. Namun Cinta memutuskan untuk pergi ke wilayah pantai di ujung kota. Hingga dia merasa siap untuk menghadapi kehidupanya ke depan.
Tiga bulan berlalu, sudah tiga bulan juga Abadi menghirup udara pantai tempat dimana dia di lahirkan 24 tahun yang lalu. Sekaligus tempat dimana dia menghabiskan masa kecilnya bersama sanak saudaranya. Hari ini Abadi berkeliling menikmati keindahan kota kelahirannya itu. Sepulang berkeliling, tidak seperti biasanya Ibunya memanggilnya dan mengajak mengobrol serius,
“Anakku, Ibbu mu ini sudah tua renta, sudah rapuh, tidakkah terselip di pikiran mu untuk memberikan Ibumu ini seorang cucu.?” Kata Ibunya. Abadi terkaget-kaget dengan ucapan Ibunya, hatinya bergetar sampai saat ini dia belum bisa menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai, cintanya kepada Cinta masih bercongkol kuat di hatinya. Bukan hanya sekedar kata cinta , Abadi memang benar-benar mencintainya, namun Abadi teringat kembali pada kenyataan, dia tidak mungkin mencintai seseorang yang telah menjadi milik orang lain.
“Apa kamu sudah punya calonnya Nak?” tanya ibunya sekali lagi. Abadi terkejut dengan segala pertanyaan dari Ibunya yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Perlahan Abadi mengangkat dia tatap dalam-dalam wajah Ibunya.
“Abadi masih belum mengerti dengan jalan hidup Abadi... tidak ada satu gadis pun yang bisa mengisi celah-celah hati Abadi Ibu.” Jawwab Abadi , keraguan menyelimuti hatinya.
“Ibu mengerti tidak mudah mencari seorang Istri yang tepat, tapi seharusnya kamu sudah muali mempersiapkan diri untuk menikah, apa kamu tidak menginginkan kebahagiaan sepasang suami istri, kebahagiaan di dunia yang di berikan oleh Tuhan.”
“Menikah untuk Abadi bagaikan berlayar mengarungi samudera Abadi tahu ujian seberat apa yang akan Abadi hadapi, Abadi masih belum menemukan calon yang mampu menjadi pelipur lara di kala Abadi terluka.” Ujar Abadi. Di pikirannya masih terbayang jelas akan janji terakhir yang dia dengar dari bibir Cinta bahwa Dia akan selalu mencintai Abadi apapun yang terjadi. Abadi ingin sekali berlari ke pelukan cinta dan meminta Cinta untuk menepati janjinya itu dengan menikah dengan Abadi. Namun, mungkin sekarang Cinta telah bersanding dengan laki-laki pilihan ayahnya itu, menatap bintang bersama, berbahagia tanpa ada yang mengusik. Abadi segera menghapus bayangan tentang Cinta yang sempat terbesit di pikirannya beberapa saat yang lalu.
“Ibu ada calon untuk mu.” Kata ibunya sambil mengulurkan selembar foto seorang gadis yang memakai jilbab kuning. Gadis dalam foto ini mengingatkan Abadi dengan seseorang, wajah gadis itu sangat akrab di ingatannya, beberapa detik dia memandang foto itu , dia mencoba mengingat dan perlahan Dia ingat siapa gadis dalam foto itu, gadis itu adalah gadis yang duduk bersama nya di kereta beberapa bulan yang lalu.
“Siapa gadis ini Ibu?” tanya Abadi. “ Apakah Dia tinggal di sekitar sini.” Lanjut Abadi ingin tahu.
“Dia bernama Kasih, dia tinggal di desa seberang, dia adalah gadis yang baik, juga Cantik. Ibu yakin kamu cocok dengannya.” Ujar Ibunya.
Abadi terdiam mendengar kata-kata ibuny, dia baru saja bertemu dengan gadis itu sekali akankah secepat itu dia menikahinya.
“dia akan datang kesini 2 minggu lagi, ibu tidak memaksamu segera menikah, Ibu hanya ingin kamu mengenalnya saja. Pikirkan baik-baik nak.” Lanjut ibunya.
Obrolan itu usai begitu saja setelah Ibunya pergi keluar rumah. Namun obrolan mereka tentang pernikahan itu meninggalkan keraguan yang tebal di hati Abadi. Akankah dia menikahi Kasih,Jika dia menikah dengan Kasih , dia akan segera melupakan Cintanya kepada Cinta sekaligus luka yang di torehkan Cinta. Namun dia menyadari bahwa itu bukanlah tujuan dari sebuah ikatan sakral suatu pernikahan, jika dia tetap menikah dengan tujuan seperti itu dia hanya akan menyakiti Kasih. Tetapi jika Abadi tetap menyendiri dia hanya akan terbayang-bayang masa lalunya dengan Cinta.
“matahari masih setia bersinar untuk alam semesta , bintang masih setia menemani bulan, Cintaku pun masih setia untukmu , aku hanya bisa menunggumu penuh harap, hingga saat sekarang hati ini tak terbalas oleh cintamu disini aku sendiri membayangkan indahnya cinta yang kau beri dan juga pahitnya luka yang kau toreh. Akankah aku terus menuggu sesuatu yang tak kunjung terjawab, masih pantaskah aku setia kepada seseorang yang tak pernah melihat cintaku?”
Sepucuk surat pendek itu dia kirim melalui salah satu rekannya yang akan pergi ke kota, kemungkinan besar Cinta akan menerima surat itu 5 hari setelah dia mengirimkan dan jika memang Cinta masih berharap akan kehadiran Abadi di sisi Cinta pasti surat balasannya akan Abadi terima sebelum hari dimana dia akan menemui Kasih.
Berhari-hari bahkan lebih dari seminggu tidak ada balasan dari Cinta. Abadi tidak lelah menanti balasan surat nya dari Cinta, namun waktu tetaplah berjalan seperti apa adanya, mungkin cinta memang telah melupakannya dan berbahagia dengan laki-laki itu, Abadi merasa malu pada dirinya sendiri dia merasa telah lancang berani mengirim surat cinta kepada seorang gadis yang telah menjadi milik orang lain.
“Bodohnya diriku selalu menunggumu,” ucap Abadi pelan pada dirinya sendiri.
Terik matahari mulai bersinar, Abadi segera menuju pantai untuk bertemu dengan Kasih, meskipun dia baru pertama kali bertemu, Abadi yakin dia akan mudah menemukannya karena pertemuan pertamanya dengan Kasih di kereta beberapa waktu yang lalu memiliki kesanyang baik.
Dan benar tak buth waktu lam, bahkan tidak perlu mengitari sepanjang hamparan pasir pantai, dia melihat gadis berjilbab biru sedang melempar-lempar batu ke arah pantai, Abadi segera menghampiri gadis itu. Tidak tahu mengapa tiba-tiba jantungnyya derdegug kencang, tidak seperti pertama kali bertemu beberapa bulan yang lalu. Dia beranikan untuk menyapa nya.
“Kasih ?”
“iyah, apakah Abadi itu kamu, sesosok lelaki yang aku temui di dalam kereta?” tanya Kasih.
“Iyah.. aku memang laki-laki yag duduk di sampingmu waktu itu.” Jawab Abadi membenarkan ucapan Kasih.
bersambung..........
DEDICATED FOR :
my beloved Friends (pezji club)
my beloved person ( K.Abadii)
“Anakku, Ibbu mu ini sudah tua renta, sudah rapuh, tidakkah terselip di pikiran mu untuk memberikan Ibumu ini seorang cucu.?” Kata Ibunya. Abadi terkaget-kaget dengan ucapan Ibunya, hatinya bergetar sampai saat ini dia belum bisa menemukan seseorang yang benar-benar dia cintai, cintanya kepada Cinta masih bercongkol kuat di hatinya. Bukan hanya sekedar kata cinta , Abadi memang benar-benar mencintainya, namun Abadi teringat kembali pada kenyataan, dia tidak mungkin mencintai seseorang yang telah menjadi milik orang lain.
“Apa kamu sudah punya calonnya Nak?” tanya ibunya sekali lagi. Abadi terkejut dengan segala pertanyaan dari Ibunya yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Perlahan Abadi mengangkat dia tatap dalam-dalam wajah Ibunya.
“Abadi masih belum mengerti dengan jalan hidup Abadi... tidak ada satu gadis pun yang bisa mengisi celah-celah hati Abadi Ibu.” Jawwab Abadi , keraguan menyelimuti hatinya.
“Ibu mengerti tidak mudah mencari seorang Istri yang tepat, tapi seharusnya kamu sudah muali mempersiapkan diri untuk menikah, apa kamu tidak menginginkan kebahagiaan sepasang suami istri, kebahagiaan di dunia yang di berikan oleh Tuhan.”
“Menikah untuk Abadi bagaikan berlayar mengarungi samudera Abadi tahu ujian seberat apa yang akan Abadi hadapi, Abadi masih belum menemukan calon yang mampu menjadi pelipur lara di kala Abadi terluka.” Ujar Abadi. Di pikirannya masih terbayang jelas akan janji terakhir yang dia dengar dari bibir Cinta bahwa Dia akan selalu mencintai Abadi apapun yang terjadi. Abadi ingin sekali berlari ke pelukan cinta dan meminta Cinta untuk menepati janjinya itu dengan menikah dengan Abadi. Namun, mungkin sekarang Cinta telah bersanding dengan laki-laki pilihan ayahnya itu, menatap bintang bersama, berbahagia tanpa ada yang mengusik. Abadi segera menghapus bayangan tentang Cinta yang sempat terbesit di pikirannya beberapa saat yang lalu.
“Ibu ada calon untuk mu.” Kata ibunya sambil mengulurkan selembar foto seorang gadis yang memakai jilbab kuning. Gadis dalam foto ini mengingatkan Abadi dengan seseorang, wajah gadis itu sangat akrab di ingatannya, beberapa detik dia memandang foto itu , dia mencoba mengingat dan perlahan Dia ingat siapa gadis dalam foto itu, gadis itu adalah gadis yang duduk bersama nya di kereta beberapa bulan yang lalu.
“Siapa gadis ini Ibu?” tanya Abadi. “ Apakah Dia tinggal di sekitar sini.” Lanjut Abadi ingin tahu.
“Dia bernama Kasih, dia tinggal di desa seberang, dia adalah gadis yang baik, juga Cantik. Ibu yakin kamu cocok dengannya.” Ujar Ibunya.
Abadi terdiam mendengar kata-kata ibuny, dia baru saja bertemu dengan gadis itu sekali akankah secepat itu dia menikahinya.
“dia akan datang kesini 2 minggu lagi, ibu tidak memaksamu segera menikah, Ibu hanya ingin kamu mengenalnya saja. Pikirkan baik-baik nak.” Lanjut ibunya.
Obrolan itu usai begitu saja setelah Ibunya pergi keluar rumah. Namun obrolan mereka tentang pernikahan itu meninggalkan keraguan yang tebal di hati Abadi. Akankah dia menikahi Kasih,Jika dia menikah dengan Kasih , dia akan segera melupakan Cintanya kepada Cinta sekaligus luka yang di torehkan Cinta. Namun dia menyadari bahwa itu bukanlah tujuan dari sebuah ikatan sakral suatu pernikahan, jika dia tetap menikah dengan tujuan seperti itu dia hanya akan menyakiti Kasih. Tetapi jika Abadi tetap menyendiri dia hanya akan terbayang-bayang masa lalunya dengan Cinta.
***
Beberapa hari ini Abadi sangat dilema, dia di hadapkan pada suatu pilihan hidup yang sangat rumit. Setelah mandi dia segera masuk ke kamarnya , dia baringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Dia menyebarkan pandanganya ke setiap sudut atap kamarnya, mencari celah-celah seberkas cahaya yang mungkin bisa menerangkan hatinya dan dilema besar yang melanda hidupnya. Dia mengambil secarik kertas dia tulis kalimat demi kalimat namun berkali-kali Abadi membuang kertas yang telah di tulisinya itu, dia menulis dan menulis lagi hingga dia rasa telah menulis dengan tepat.“matahari masih setia bersinar untuk alam semesta , bintang masih setia menemani bulan, Cintaku pun masih setia untukmu , aku hanya bisa menunggumu penuh harap, hingga saat sekarang hati ini tak terbalas oleh cintamu disini aku sendiri membayangkan indahnya cinta yang kau beri dan juga pahitnya luka yang kau toreh. Akankah aku terus menuggu sesuatu yang tak kunjung terjawab, masih pantaskah aku setia kepada seseorang yang tak pernah melihat cintaku?”
Sepucuk surat pendek itu dia kirim melalui salah satu rekannya yang akan pergi ke kota, kemungkinan besar Cinta akan menerima surat itu 5 hari setelah dia mengirimkan dan jika memang Cinta masih berharap akan kehadiran Abadi di sisi Cinta pasti surat balasannya akan Abadi terima sebelum hari dimana dia akan menemui Kasih.
Berhari-hari bahkan lebih dari seminggu tidak ada balasan dari Cinta. Abadi tidak lelah menanti balasan surat nya dari Cinta, namun waktu tetaplah berjalan seperti apa adanya, mungkin cinta memang telah melupakannya dan berbahagia dengan laki-laki itu, Abadi merasa malu pada dirinya sendiri dia merasa telah lancang berani mengirim surat cinta kepada seorang gadis yang telah menjadi milik orang lain.
“Bodohnya diriku selalu menunggumu,” ucap Abadi pelan pada dirinya sendiri.
***
Hari berganti hari. Hari ni adalah hari dimana Abadi harus bertemu dengan Kasih dia tak mengerti dengan arah hidupnya, dia bagaikan kayu yang terombang ambing di lautan lepas,Terik matahari mulai bersinar, Abadi segera menuju pantai untuk bertemu dengan Kasih, meskipun dia baru pertama kali bertemu, Abadi yakin dia akan mudah menemukannya karena pertemuan pertamanya dengan Kasih di kereta beberapa waktu yang lalu memiliki kesanyang baik.
Dan benar tak buth waktu lam, bahkan tidak perlu mengitari sepanjang hamparan pasir pantai, dia melihat gadis berjilbab biru sedang melempar-lempar batu ke arah pantai, Abadi segera menghampiri gadis itu. Tidak tahu mengapa tiba-tiba jantungnyya derdegug kencang, tidak seperti pertama kali bertemu beberapa bulan yang lalu. Dia beranikan untuk menyapa nya.
“Kasih ?”
“iyah, apakah Abadi itu kamu, sesosok lelaki yang aku temui di dalam kereta?” tanya Kasih.
“Iyah.. aku memang laki-laki yag duduk di sampingmu waktu itu.” Jawab Abadi membenarkan ucapan Kasih.
bersambung..........
DEDICATED FOR :
my beloved Friends (pezji club)
my beloved person ( K.Abadii)







1 komentar:
this my story....
Posting Komentar